Showing posts with label TAUHID. Show all posts
Showing posts with label TAUHID. Show all posts

Cara Mudah Memahami Riba'

Pertanyaan: Apakah definisi riba?

Jawaban:

Riba menurut bahasa adalah tambahan. Adapun menurut syari’at maka tidak semua tambahan dalam jual beli atau transaksi dapat dihukumi riba. Makna riba menurut syari’at tergantung bentuk ribanya. Para ulama menjelaskan:

Pertama: Riba Fadhl, yaitu tambahan dalam jual beli/pertukaran barang dengan barang yang semisal, yang termasuk dalam kategori barang-barang ribawi.

Kedua: Riba Nasiah, yaitu penundaan salah satu barang dalam serah terima pertukaran/jual beli, padahal barang tersebut termasuk kategori barang-barang ribawi.
Adapun yang dimaksud dengan barang-barang ribawi adalah yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

Kesyirikan dalam Tradisi Labuhan Merapi yg pernah dipimpin Mbah MARDJAN merupakan salah satu sebab bencana Gunung Merapi

Al Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Tradisi LABUHAN MERAPI yang pernah dipimpin MARIDJAN untuk menghormati KYAI SAPU JAGAT [Iblis penghuni Merapi, semoga Allah Ta'ala melaknatnya] yang mereka yakini sebagai penjaga keselamatan dan ketentraman Kesultanan dan warga Jogya, adalah bentuk SYIRIK kepada ALLAH TA'ALA dalam ULUHIYYAH dan RUBUBIYYAH sekaligus dan SEBAB TERBESAR bencana Merapi.

Rahmat Islam Untuk Rahmat Purnomo (Bag. 2 - Habis) (Kisah Muallaf)

(Lanjutan..)

Aku melanjutkan pencarianku tentang beberapa hal yang berkaitan dengan keyakinan, pada suatu hari kuletakkan Injil dan Al Quran di depanku, kutujukan pertanyaan pada injil, "Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?", jawabannya: tidak ada, karena nama Muhammad tidak terdapat dalam Injil. Kemudian kutujukan pertanyaan berikutnya pada Isa seperti Al Quran telah bercerita tentangnya, "Wahai Isa ibnu Maryam, apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?" Jawabannya: sungguh Al Quran telah menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan sedikitpun bahwa seorang Rasul yang pasti akan datang setelahku namanya adalah Ahmad. Allah berfirman atas lisan Isa 'alaihis salam,

Rahmat Islam Untuk Rahmat Purnomo 1 (Kisah Muallaf)

Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsary

Ia adalah seorang laki-laki keturunan sang ayah Holandia dan ibu Indonesia dari kota Ambon yang terletak di pulau kecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Kristen adalah agama yang diwariskan keluarganya dari bapak dan kakeknya.Kakeknya adalah seorang yang punya kedudukan tinggi pada agama kristen yang bermadzhab protestan, bapaknya juga demikian namun ia bermadzhab panticosta. Sedangkan ibunya sebagai pengajar injil untuk kaum wanita, adapun dia sendiri juga punya kedudukan dan sebagai ketua bidang da'wah di sebuah gereja "Bethel Injil Sabino".

Kekeliruan & Kesalahan di Hari Raya

Hari raya adalah hari bergembira bagi seluruh ummat Islam di Indonesia Raya, bahkan di seluruh dunia. Ini merupakan nikmat dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Namun kegembiraan ini terkadang disalahsalurkan oleh sebagian kaum muslimin dalam beberapa bentuk pelanggaran berikut:

Mengkhususkan Ziarah Kubur

Ziarah kubur merupakan perkara yang dianjurkan oleh syari’at kita, selama di dalamnya tak ada pelanggaran, seperti melakukan kesyirikan, dan perbuatan bid’ah (perkara yang tak ada contohnya). Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,


زُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الآخِرَةَ

“Berziarahlah ke kubur, karena sesungguhnya ia akan mengingatkan kalian tentang akhirat”. [HR. Ibnu Majah (1569). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Adab (518)]

Bagaimana Aku Mencapai Jalan Tauhid (9) Tamat

Sikap Para Syaikh Shufi Terhadap Tauhid

Suatu ketika saya menemui seorang syaikh besar yang memiliki banyak murid dan pengikut. Dia adalah seorang khotib dan imam masjid besar. Saya mulai bercakap-cakap dengannya tentang do’a, bahwa do’a itu adalah ibadah yang tidak boleh dimohonkan kecuali hanya kepada Allah semata. Saya memperkuat argument saya dengan dalil dari Al-Qur’an, yaitu firman Allah Azza wa Jalla:

{قُلِ ادْعُواْ الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً. أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا} (56-57) سورة الإسراء


Bagaimana Aku Mencapai Jalan Tauhid (8)

Mendapat Petunjuk Ke Jalan Tauhid

Saya membaca hadits Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu dihadapan Syaikh yang mengajariku, yaitu sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا سألت فاسأل الله, و إذا استعنت فاستعين بالله ( رواه الترمذي )

“Apabila engkau memohon, maka mohonlah kepada Allah dan apabila engkau meminta pertolongan mintalah kepada Allah” (HR. At-Tirmidzi. Ia berkata hadits Hasan Shahih).

Sungguh menarik perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah (ketika menjelaskan hadits ini): ”…kemudian jika kebutuhan yang ia minta adalah termasuk kekhususan Allah dan tidak dapat dilakukan oleh makhluk-Nya, seperti memohon petunjuk, ilmu, kesembuhan dari penyakit dan mendapatkan kesehatan, maka ia harus memintanya langsung kepada Rabbnya. Adapun meminta kepada makhluk dan mengandalkan mereka, maka perbuatan tersebut tercela”.

Bagaimana Aku Mencapai Jalan Tauhid (7)

Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafizahullahuta'ala

Dzikir Ala Shufi Di Masjid

Suatu ketika, saya menghadiri halaqoh dzikir yang diadakan oleh kalangan shufi di masjid daerah yang saya tinggali. Lalu salah seorang di antara mereka yang memiliki suara yang indah maju ke depan untuk menyenandungkan bait-bait qosidah dan lagu-lagu di tengah halaqoh dimana orang-orang kampung berkumpul di saat dzikir berlangsung.

Dan diantara syair yang saya ingat dari orang shufi ini adalah ungkapan:

يا رجال الغيب ساعدونا أنقذونا


Wahai orang yang ghaib, tolonglah kami, bantulah kami.

Bagaimana Aku Mencapai Jalan Tauhid (6)

Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafizahullahuta'ala

Thariqat Mauliyyah

Di daerah saya terdapat kelompok lain yang terkenal dengan nama Tarekat Mauliyyah. Mereka bermarkas di masjid besar, tempat dimana sholat wajib didirikan. Di sana terdapat banyak kuburan yang ditutup dengan kain kelambu. Nisannya dihiasi dengan batu-batu marmer yang indah dan tinggi. Di atasnya tertulis ayat-ayat Al-Qur’an, nama orang yang sudah meninggal itu dan bait-bait syair. Kelompok ini menghadiri perayaan setiap hari Jum’at atau pada acara-acara tertentu dengan memakai topi yang panjang terbuat dari kulit berwarna abu-abu dan beberapa alat-alat musik yang mereka gunakan ketika berdzikir dapat didengarkan dari kejauhan. Saya melihat salah seorang dari mereka duduk di tengah lingkaran, kemudian berputar-putar sendirian di tempat itu, dilakukan berkali-kali dan tidak beranjak dari tempatnya. Mereka menundukkan kepala ketika memohon pertolongan kepada Syaikh mereka, Jalaluddin Ar-Rumi atau yang lainnya.

Bagaimana Aku Mencapai Jalan Tauhid (5)

Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafizahullahuta'ala

Memukul Dengan Besi

Di dekat rumah kami, ada sekelompok orang-orang shufi. Saya biasa datang ke sana untuk mengetahui lebih jauh dzikir yang mereka baca. Setelah sholat ‘Isya, orang-orang yang akan menyanyikan bait-bait lagu mulai berdatangan. Mereka semua tidak berjenggot dan menyenandungkan bait syair yang sama:


هات كاس الراح ### واسقنا الأقداح



Berilah kami segelas arak Berilah kami minuman arak

Bagaimana Aku Mencapai Jalan Tauhid (4)

Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafizahullahuta'ala

Thariqat Qodiriyyah

Salah seorang mengundangku bersama syaikh yang mengajari saya ilmu nahwu dan tafsir. Kamipun pergi kerumah syaikh itu. Setelah selesai makan malam, orang-orang yang hadir kemudian berdiri, berdzikir, melompat, goyang ke kiri dan ke kanan dengan menyebut lafadz ( الله…) ( الله…).

Saya hanya berdiri dan tidak bergerak, kemudian saya duduk di bangku hingga bagian pertama selesai.

Saya melihat keringat mereka bercucuran, kemudian mengambil handuk dan memberishkannya.

Ketika waktu sudah mendekati tengah malam, saya tinggalkan mereka dan pergi ke rumah.

Bagaimana Aku Mencapai Jalan Tauhid (3)

Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafizahullahuta'ala

Pindah Ke Tarekat Syadzaliyyah

Saya mengenal Syaikh dari tarekat Syadzaliyyah yang memiliki penampilan dan akhlaq yang baik. Terkadang ia datang berkunjung ke rumahku dan terkadang saya yang berkunjung ke rumahnya. Saya kagum dengan kelembutan ucapan dan perkataannya serta ketawadhuan dan kedermawanannya. Saya meminta kepadanya wirid-wirid tarekat Syadzaliyya, lalu ia memberiku wirid-wirid khusus tarekat ini.

Bagaimana Aku Mencapai Jalan Tauhid (2)

Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafizahullahuta'ala
Mengikuti Thariqat Naqsabandiyah

Sejak kecil saya selalu mengikuti pelajaran dan halaqoh dzikir di masjid. Suatu ketika, pemimpin tarekat Naksabandiyyah melihatku, lalu ia mengajakku ke pojok masjid dan memberiku wirid-wirid tarekat Naksabandiyyah. Namun, karena usiaku yang masih belia, saya belum mampu membaca wirid-wirid itu sesuai dengan petunjuknya, tetapi saya tetap mengikuti pelajaran mereka bersama teman-teman saya dari pojokan masjid.


Bagaimana Aku Mencapai Jalan Tauhid (1)

Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafizahullahuta'ala

Kelahiran dan Masa Pertumbuhan

Saya dilahirkan di kota Hilb, Suria pada tahun 1925 M, berdasarkan apa yang tertulis dalam paspor, bertepatan dengan tahun 1344 H. Usia saya sekarang 73 tahun [1]. Ketika berusia kira-kira 10 tahun, saya masuk madrasa, khusus untuk belajar membaca dan menulis.

Saya menjadi murid di madrasah Daar Huffadz selama 5 tahun, dan selama itu pula saya menghafal Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan hukum-hukum tajwidnya.

Al Qawaid Al Arba (Empat Kaedah Mengetahui FenomenaKesyirikan)

القواعــد الأربـع


Penulis:

للشيخ محمد بن عبد الوهاب

Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Mukadimah

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku meminta kepada Allah Yang Maha Pemurah, Rabbnya Arsy yang besar, agar Dia menjadikan anda sebagai wali-Nya di dunia dan di akhirat, menjadikan anda sebagai orang yang diberkahi dimanapun anda berada dan menjadikan anda termasuk golongan orang-orang yang jika diberikan sesuatu maka dia bersyukur, jika ditimpakan ujian maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka segera meminta ampunan. Karena ketiga sifat ini merupakan tanda kebahagiaan hidup seseorang.

Ketahuilah –semoga Allah Ta'ala memberikan tuntunan kepada anda-, sesunguhnya al-hanifiah adalah agamanya Nabi Ibrahim: Yaitu anda beribadah kepada Allah Subhanahu wata'ala dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:


﴾وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِِ﴿


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyaat: 56).

Dan bila Anda telah mengetahui bahwasanya Allah Ta'ala menciptakan anda untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah: Bahwa ibadah tidak teranggap dia ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah teranggap sebagai shalat kecuali jika disertai dengan bersuci. Karenanya jika ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila disertai adanya hadats.

Kalau anda sudah mengetahui bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan merusak ibadah itu sendiri, bahwa hal itu menyebabkan terhapusnya semua amalan pelakunya (musyrik) dan menyebabkan pelakunya menjadi orang-orang yang kekal di dalam api neraka.

Kalau anda sudah mengetahui semua perkara di atas, niscaya anda akan mengetahui bahwa perkara yang terpenting untuk anda ketahui adalah mempelajari masalah ini (kesyirikan), semoga dengannya Allah berkenan membebaskan anda dari jaring-jaring kerusakan ini. Yaitu kesyirikan kepada Allah Ta'ala, yang Allah Ta'ala telah berfirman tentangnya:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang berada di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisaa' : 116)

Pengetahuan akan hal ini (kesyirikan) akan mampu diraih dengan memahami 4 kaidah yang telah Allah nyatakan dalam Kitab-Nya

KAIDAH PERTAMA القاعدة الأولى:

Anda harus meyakini bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta, dan yang mengatur segala urusan. Meskipun demikian, hal itu tidaklah lantas menyebabkan mereka masuk ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

"Katakanlah: 'Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (menghidupkan dan mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan?' Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab:'Allah'. Maka katakanlah:'Mengapa kalian tidak bertakwa [kepada-Nya]”. (QS. Yunus: 31).

KAIDAH KEDUA القاعدة الثانية:

Mereka (musyrikin) berkata: "Kami tidak berdo'a dan tidak menyerahkan ibadah kepada mereka (sembahan selain Allah) kecuali untuk meminta qurbah (kedekatan kepada Allah) dan syafaat (mereka nantinya akan memberi syafa'at kepada kami, pent.)

Dalil tentang pendekatan diri adalah firman Allah Ta'ala:


وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar". (QS. Az-Zumar: 3).

Adapun dalil tentang syafa'at adalah firman Allah Ta'ala:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ


"Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa'atan, dan mereka (musyrikin) berkata: "Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah:"Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak [pula] di bumi" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu]”. (QS. Yunus: 18).

Syafa'at itu ada 2 macam:

1. Syafa'at manfiyah (yang ditolak keberadaannya).
2. Syafa'at mutsbatah (yang ditetapkan keberadaannya).


Syafa'at manfiyah adalah syafa'at yang diminta kepada selain Allah Subhanahu wata'ala, pada perkara yang tidak seorangpun sanggup memberikannya kecuali Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خُلَّةٌ وَلا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Baqarah : 254).

Syafa'at mutsbatah adalah syafa'at yang diminta dari Allah Subhanahu wata'ala. Makhluk yang memberikan syafa'at itu dimuliakan (oleh Allah) dengan (kemampuan memberikan) syafa'at, sedangkan yang akan diberikan syafa'at adalah orang yang Allah ridhai baik ucapan maupun perbuatannya, itupun setelah Allah mengizinkan. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ


"Siapakah yang mampu memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?". (QS. Al-Baqarah : 255).

KAIDAH KETIGA القاعدة الثالثة:

Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang beraneka ragam dalam cara penyembahan mereka. Di antara mereka ada yang menyembah para malaikat, di antara mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, di antara mereka ada yang menyembah pepohonan dan bebatuan serta di antara mereka ada pula yang menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau tidak membeda-bedakan di antara mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ

"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik Allah semuanya". (QS. Al-Baqarah : 193).

Dalil (akan adanya penyembahan kepada) matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ

"Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah". (QS. Fushilat : 37).

Dalil (akan adanya penyembahan kepada para) malaikat adalah firman Allah Ta’ala:

وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلاَئِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا

"Dan dia (Muhammad) tidak pernah memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai sembahan-sembahan". (QS. Ali Imran: 80).

Dalil (akan adanya penyembahan kepada para) Nabi adalah firman Allah Ta’ala:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

"Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:"Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:"Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah". 'Isa menjawab:"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib." (QS. Al-Maidah : 116).

Dalil (akan adanya penyembahan kepada) orang-orang shaleh adalah firman Allah Ta’ala:

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ...

" Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat [kepada Allah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” (QS. Al-Isra` : 57).

Dalil (akan adanya penyembahan kepada) pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala:


أَفَرَأَيْتُمْ اللاَّتَ وَالْعُزَّى (19)

وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى


“Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata dan Al-Uzza, serta Manat yang ketiga.” (QS. An-Najm: 19-20)

Dan hadits Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata:

"Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja lepas dari kekafiran (muallaf). Sementara itu, orang-orang musyrikin mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka bisa berdiam (i’tikaf) di sisinya dan mereka bisa menggantungkan senjata-senjata mereka di situ (untuk cari berkah sebelum perang, pent.). Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath (Yang mempunyai tali-tali untuk menggantung). Kami kemudian melalui pohon bidara itu, lalu [sebagian dari] kami mengatakan: "Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (musyrikin) mempunyai Dzatu Anwath….” sampai akhir hadits.


KAIDAH KEEMPAT القاعدة الرابعة:

Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita (masa Syaikh, pent.) lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu (masa Nabi, pent.). Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah) ketika mereka dalam keadaan sempit.

Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

"Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo'a kepada Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]. " (QS. Al-Ankabut: 65).


Sumber : Al Qawa'idul Arba' dan Terjemah.CHM (download via http://sunniy.wordpress.com//)




Kasyfu Syubhat (6) [Bagian Terakhir]

Kasyfu Syubhat adalah kitab yang mengungkap kebathilan penentang Tauhid Bag.Terakhir

Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –Rahimahullah- dalam kitab Kasyfu syubhat:”

Dan orang-orang musyrik itu masih mempunyai syubhat lain. Yaitu apa yang pernah disebutkan oleh nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya manusia nanti dihari kiamat akan baristighatsah (meminta pertolongan) kepada Nabi Adam ‘alaihi wasallam, kemudian kepada Nabi Nuh ‘alaihi wasallam, kemudian kepada Nabi Ibrahim ‘alaihi wasallam, kemudian kepada Nabi Musa ‘alaihi wasallam, kemudian kepada Nabi Isa ‘alaihi wasallam, Lalu semuanya tidak dapat melakukan sehingga akhirnya mereka sampai ke Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Orang-orang musyrik itu mengatakan: “hal itu menunjukkan, bahwasanya istighatsah kepada selain Allah itu tidak Syirik”.


Sebagai jawabannya, hendaklah kita katakan: “Maha Suci Allah Yang Mengunci mati hati musuh-musuh-Nya. Sesungguhnya istighatsah kepada makhluk dalam hal yang dia mampu, kami tidak memungkirinya, sebagaimana firman Allah tentang kisah nabi Musa ‘alaihi wasallam:


فَٱسۡتَغَـٰثَهُ ٱلَّذِى مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِى مِنۡ عَدُوِّهِ


“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan (beristightsah) kepadanya, atas orang yang dari musuhnya.” (QS. Al Qashash:15).

Dan sebagaimana seseorang meminta pertolongan kepada teman-temannya dalam peperangan atau hal lain yang makhluk mampu mengerjakannya. Kami hanya mengingkari istightsah Al-ibadah (istightsah yang bersifat penyembahan) yang mereka lakukan di sisi kuburan-kuburan para wali atau istightsah kepada wali itu di saat para wali itu di tempat yang jauh, bukan di hadapannya, dalam hal-hal yang tidak ada seorangpun mampu atas hal itu kecuali Allah.

Jika ini telah tegas, maka istightsah mereka kepada para Nabi di hari kiamat seraya menginginkan dari nabi-nabi itu untuk berdo’a kepada Allah agar segera melakukan hisab kepada manusia sehingga penduduk syurga dapat beristirahat terlepas dari susah dan payahnya keadaan waktu itu.

Hal ini memang boleh di dunia dan di akhirat. Yaitu, misalnya; anda datang kepada seorang yang shaleh yang masih hidup, dia duduk mendampingi anda dan mendengarkan perkataan anda, anda mengatakan kepadanya: “Berdo’alah kepada Allah untukku”, sebagaimana dahulu para sahabat Rasulullah memohon hal itu kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam di saat beliau hidup.

Sedangkan sesudah beliau wafat, sekali-kali tidak dan sekali-kali tidak, dan tidaklah para sahabat itu memohon hal itu di sisi kuburan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan, ulama’ salaf mengingkari orang yang bermaksud berdo’a kepada Allah di sisi kuburan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, lebih-lebih berdo’a memohon kepada diri beliau shalallahu ‘alaihi wasallam?

Syubhat lain yang dimiliki orang-orang musyrik adalah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihi wasallam tatkala dilempar ke dalam api, Malaikat Jibril ‘alaihi wasallam menghalanginya di udara. Lalu, Jibril bertanya kepada Ibrahim ‘alaihi wasallam: “Apakah kamu butuh sesuatu? Maka Ibrahim ‘alaihi wasallam menjawab: “kepadamu saya sama sekali tidak butuh”. Lantas mereka mengatakan: Kalau istighatsah itu syirik tentu Jibril tidak akan menawarkan pertolongannya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihi wasallam.

Sebagai jawabannya ialah: “Sesungguhnya hal ini termasuk jenis syubhat yang pertama. Sebab, sesungguhnya malaikat Jibril telah menawarkan kepada Ibrahim ‘alaihi wasallam untuk memberi pertolongan kepadanya dalam hal yang Jibril mampu melaksanakan hal itu. Karena sesungguhnya malaikat Jibril, seperti yang difirmankan Allah tentang diri Jibril:

Artinya: “Yang sangat kuat.”

maka, jika diizinkan untuk mengambil api dan apa yang ada di sekitar api itu lalu ia lemparkan ke ufuk timur atau barat niscaya akan ia kerjakan. Jika Allah memerintahkannya untuk meletakkan Nabi Ibrahim ‘alaihi wasallam di tempat yang jauh dari mereka, niscaya ia dapat melakukannya. Dan jika Allah memerintahkannya untuk mengangkat Ibrahim ‘alaihi wasallam ke langit, niscaya ia dapat melakukannya.

Hal ini tak beda seperti seorang lelaki kaya-raya sedang melihat orang yang membutuhkan. Lantas ia menawarkan kepadanya untuk menghutanginya dan memberinya sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya. Tetapi, orang yang membutuhkannya itu tidak mau meminjam dan bahkan ia terus bersabar sampai Allah mendatangkan kepadanya rezeki yang ia tidak merasa tertumpangi jasa orang lain.

Betapa jauhnya perbedaan antara hal ini dengan istighatsah al-ibadah dan syirik, jika mereka benar-benar orang-orang yang mengerti([1]).

Baiklah, kami segera tutup pembicaraan ini dengan suatu masalah yang besar dan penting, yang dapat difahami dari hal-hal yang terdahulu. Akan tetapi kami khususkan pembicarannya mengingat betapa besarnya masalah ini dan betapa banyaknya salah pengertian dalam masalah ini. Maka kami katakan:

Tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama’ bahwasanya tauhid itu wajib diwujudkan dengan hati, lisan dan amal perbuatan. Maka, jika hilang satu saja dari ketiga hal itu (hati, lisan dan amal) maka seorang belum dakatakan muslim. Lalu, jika seorang mengetahui tauhid, tetapi tidak melaksanakan tauhid itu, maka ia dihukum kafir Mu’aanid (orang kafir yang membangkang), seperti kekafiran fir’aun, Iblis dan yang serupa dengan keduanya.

Banyak dari manusia yang salah pengertian dalam masalah ini, mereka mengatakan:

“Sesungguhnya hal ini haq (benar) dan kami memahaminya serta bersaksi, bahwasanya hal itu benar. Akan tetapi, kami tidak Mampu untuk melaksanakannya. Dan tidak dibolehkan penduduk negeri kami, kecuali orang yang sefaham dengan mereka”. Atau berbagai alasan yang lain.

Si bodoh yang miskin pengertian ini tidak tahu, bahwa sebagian besar pemuka-pemuka kafir mereka mengetahui kebenaran itu dan mereka tidak meninggalkannya, dengan berbagai alasan, sebagaimana firman Allah subahanahu wa ta’ala:

ٱشۡتَرَوۡاْ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنً۬ا قَلِيلاً۬ فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِهِۦۤ‌ۚ إِنہُمۡ سَآءَ مَا ڪانُواْ يَعمَلُونَ


“Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” (QS. At Taubah: 9).

Dan ayat-ayat yang lain. Seperti firman Allah:

يَعرِفُونَهُ ۥ كَمَا يَعرِفُونَ أَبنَآءَهُمُ‌ۘ

“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) itu mengenalnya (Nabi Muhammad) seperti mengenal anaknya sendiri.” (Q.S. Al Baqarah:146 dan Al An’aam:20).

Jika seorang melaksanakan tauhid dengan perbuatan yang tampak mata, sedangkan dia tidak memahami tauhid itu dan tidak meyakininya dengan hatinya, maka dia adalah munafiq. Dan orang munafiq lebih jelek dari orang kafir.

إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرۡكِ ٱلأَسفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ

“Sesungguhnya orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkat yang paling bawah dari neraka.” (Q.S. An Nissa’:145).

Ini masalah yang panjang, akan jelas bagi anda, jika anda telah merenungkannya melalui apa yang keluar dari lisan-lisan manusia, anda akan lihat orang yang mengetahui al haq (kebenaran) tetapi tidak mau melaksanakan kebenaran itu karena rasa takut kekurangan dunia atau karena pangkat di bidang agama atau dunia ataupun karena basa-basi menyesuaikan diri dengan orang. Dan anda juga akan melihat orang yang mengamalkan secara zhahir, sedang batinnya menolak. Akan tetapi wajib bagi anda untuk memahami dua ayat dari kitab Allah ini.

Ayat yang pertama adalah firman Allah ta’ala:

لَا تَعتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعدَ إِيمَـٰنِكُمۡ


“Tidak usah minta ma’af (beralasan), karena kamu kafir sesudah beriman.” (Q.S. At Tubah: 66).

Jika telah jelas bagi anda, bahwasanya sebagian para sahabat yang telah memerangi bangsa Romawi bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itu kafir hanya karena mereka mengucapkan suatu kalimat (perkataan) atas dasar main-main dan canda, maka teranglah bagi anda, bahwasanya orang yang mengucapkan dirinya kafir karena rasa takut kekurangan harta atau karena demi pangkat ataupun karena berbasa-basi menyesuaikan diri dengan orang, adalah lebih besar kesesatannya dari orang yang mengucapkan suatu kalimat kekafiran dengan maksud bercanda.

Ayat yang kedua adalah firman Allah Ta’ala:

مَن كفَرَ بِٱللَّهِ مِنۢ بَعدِ إِيمَـٰنِهِۦۤ إِلَّا مَنۡ أُكرِهَ وَقَلبُهُ ۥ مُطمٮٕنُّۢ بِٱلإِيمَـٰنِ وَلَـٰكِن مَّن شَرَحَ بِٱلكُفرِ صَدۡرً۬ا فَعَلَيهِمۡ غَضَبٌ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬

ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمُ ٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنيَا عَلَى ٱلأخِرَةِ


“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah ia beriman (dia mendapat kemurkaan dari Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesunguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat.” (QS. An Nahl:106-107).

Maka, Allah tidak menerima uzur mereka kecuali orang yang dipaksa kafir disertai keberadaan hati yang tetap tenang dalam keimanan. Adapun selain itu, maka ia benar-benar telah kafir sesudah beriman, baik ia mengerjakan itu karena rasa takut atau sekedar berpura-pura untuk menyesuaikan diri dengan orang, atau karena rasa bakhil dengan negerinya atau keluarganya atau kerabat-kerabatnya ataupun harta bendanya. Ataupun ia melakukan tindakan kekafiran itu atas dasar canda atau karena atas tujuan-tujuan lain, kecuali orang yang dipaksa kafir.

Oleh karenanya, ayat diatas menunjukkan hal itu dari dua segi; Yang pertama: firman Allah ta’ala:

إِلَّا مَنۡ أُكرِهَ


“kecuali orang yang dipaksa kafir”

Disini Allah hanya mengecualikan orang yang dipaksa kafir, dan sudah maklum, bahwasanya orang tidak dipaksa kecuali supaya mengucap atau berbuat, sedangkan keyakinan (I’tikad) hati, tidak ada seorang pun yang dipaksa untuk meyakininya.

Yang kedua: firman Allah ta’ala:

ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمُ ٱسۡتَحَبُّواْ ٱلحَيَوٰةَ ٱلدُّنيَا عَلَى ٱلأۡخِرَةِ


“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat.”(QS.An Nahl: 107).

Maka, Allah telah menerangkan ayat itu dengan jelas, bahwasanya kekafiran dan siksa tidaklah disebabkan I’tikad, kebodohan dan kebencian kepada agama, serta cinta kepada kekafiran melainkan sebabnya adalah karena mereka mendapat keuntungan-keuntungan dunia, lalu hal itu ia utamakan melebihi agama, dan hanya Allah subanahu wa ta’ala Yang Lebih Tahu, Yang Lebih Perkasa dan Yang Lebih Mulia. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi kita; Muhammad dan kepada para sahabat beliau.

-Selesai- Alhamdulillah.

Diterjemahkan dari kitab Kasyfu Syubhat karya Asy Muhammad bin Abdul Wahhab-rahimahullah-

—————————————————————————–
([1] ) Orang yang telah mati tidak akan mendengar do’a orang yang berdo’a kepada mereka dan tidak pula mendengar Istighatsah orang yang beristighatsah kepada mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا يَسۡمَعُواْ دُعَآءَكُمۡ


“Jika kamu berdo’a (menyeru) mereka, mereka tiada mendengar do’a (seruanmu).” (QS Al-Fatir: 14).

Maka para penyembah orang mati senantiasa dalam kesesatan, selagi mereka tetap berdo’a kepada orang-orang mati itu, karena ibadah mereka berlawanan dengann nash Al-Qur’an.

Sumber: Haulasyiah

Kasyfu Syubhat (5)

Kasyfu Syubhat adalah kitab yg Mengungkap Kebathilan Argumen Penentang Tauhid

Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab-rahimahullah- Berkata:

”Oleh karenanya renungkan syubhat berikut ini, ‎yaitu ucapan mereka: “mengapa kalian mengkafirkan ‎orang-orang Islam yang mereka bersaksi, bahwa tidak ‎ada tuhan selain Allah, mereka mengerjakan shalat ‎dan puasa? Kemudian renungkan jawaban syubhat ‎itu, karena jawaban ini adalah termasuk paling ‎bermanfaat diantara isi lebar-lembaran ini.‎

Dan termasuk dalil atas hal itu juga adalah apa ‎yang sudah Allah ceritakan tentang bani Israil dengan ‎keislaman, keilmuan dan keshalehan mereka, masih ‎saja mereka mengatakan kepada nabi musa ‘alaihi sallam:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَـٰهً۬ا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٌ۬‌ۚ ‏

‎ “Buatlah untuk kami suatu tuhan (berhala) ‎sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan ‎‎(berhala).” (QS.Al A’raaf:138).‎

‎ Dan ucapan beberapa sahabat:‎

‏( اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ )‏

‎“Buatlah untuk kami dzaatu anwaath (nama sebuah ‎Pohon).”‎

Mendengar ucapan itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lalu ‎bersumpah, bahwasanya ucapan itu serupa dengan ‎ucapan bani Israil “buatlah untuk kami sebuah tuhan ‎‎(berhala).”‎

Tetapi, orang-orang musyrik mempunyai syubhat, ‎yang mereka pakai sebagai hujjah dalam kisah bani ‎Israil itu. Syubhat itu adalah mereka mengatakan, ‎bahwa bani israil itu tidak kafir, begitu pula beberapa ‎sahabat yang telah mengatakan: “Buatlah untuk kami ‎pohon Dzaatu Anwaath,” mereka pun tidak kafir.‎

Sebagai jawabannya, hendaklah anda katakan: ‎‎“sesungguhnya bani Israil tidak melakukan itu, ‎demikian pula orang-orang yang telah memohon ‎kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tidak juga melakukan itu. Tetapi jika ‎melakukan itu yakni membuat tuhan berhala, jelas ‎mereka akan kafir. Seperti juga tidak ada perbedaan ‎pendapat antara ulama’ bahwa orang-orang yang ‎dilarang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itu andaikan tidak mentaati ‎beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan mengambil Dzaatu anwaath itu sesudah ‎mereka dilarang, niscaya mereka pun menjadi kafir. ‎Dengan demikian terjawablah. ‎

Akan tetapi, kisah ini memberi pelajaran, ‎bahwasanya seorang muslim, bahkan seorang ‘alim, ‎terkadang dapat terperosok ke dalam macam syirik ‎tanpa sepengetahuannya. Dengan demikian kisah ini ‎pun memberi pelajaran kepada kita agar belajar dan ‎berhati-hati serta mengerti bahwa ucapan seorang ‎bodoh, “kami sudah faham tauhid itu, “adalah ‎kebodohan yang terbesar dan termasuk makar (tipu ‎daya) syetan yang terbesar, kisah ini juga memberi ‎pelajaran, bahwa seorang muslim jika mengucapkan ‎perkataan kufur dan dia tidak tahu, lalu diingatkan ‎atas perbuatannya itu, kemudian seketika itu juga ‎bertaubat dari ucapan itu, maka ia tidak kafir, ‎sebagaimana yang sudah dilakukan kaum bani Israil ‎dan sahabat yang meminta kepada nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam kisah ‎diatas, dan kisah itu juga memberi pelajaran, ‎bahwasanya jika dia tidak kafir maka dia harus ditegur ‎dengan perkataan yang keras kepadanya, seperti yang ‎dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihim wasallam, kepada orang-orang lain ‎dari sahabat itu.‎

Orang-orang musyrik mempunyai syubhat lain, ‎mereka mengatakan bahwa nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyalahkan ‎pembunuhan Usamah radhiyallahu ‘anhuma terhadap ‎orang yang sudah mengatakan: ‎لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله‎ ‎

dan beliau bersabda kepadanya:‎

‎ ‎‏(( أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ))‏‎ ‎

Mengapa engkau bunuh setelah ia mengucapkan: ‎Laailaaha illallah?‎

Begitu juga sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam:‎

‏(( أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ))‏‎ ‎


Aku diperintahkan untuk memerangi manusia ‎sehingga mereka mengucapkan: ‎لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله‎ ‎

Dan hadits-hadits lain tentang menahan diri dari ‎orang yang telah mengucapkan kalimat tauhid.‎

Yang diinginkan orang-orang bodoh itu adalah, ‎bahwasanya barang siapa yang sudah mengucapkan ‎kalimat itu, maka tidak dikafirkan dan tidak dibunuh, ‎meski ia telah berbuat apa saja, maka, harus ‎dikatakan kepada orang-orang bodoh itu, “sudah ‎maklum, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah memerangi ‎orang-orang Yahudi dan menawan mereka padahal ‎mereka mengatakan: ‎لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله‎ ‎

Seperti juga sudah maklum, bahwa sahabat-‎sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah memerangi Bani Hanifah, ‎padahal mereka bersaksi, bahwasanya tidak ada Ilah ‎‎(sesembahan) selain Allah dan sesungguhnya Nabi ‎Muhammad itu adalah utusan Allah, mereka juga ‎mengerjakan shalat dan mengaku dirinya Islam.

‎Demikian pula halnya orang-orang yang dibakar oleh ‎‎‘Ali bin Abi Thalib dengan api, dan orang-orang bodoh ‎itu mengakui, bahwa barang siapa yang mengingkari ‎hari pembalasan, maka ia dihukum kafir dan boleh ‎dibunuh, meskipun telah mengucapkan: ‎لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله‎ dan ‎barang siapa mengingkari sesuatu dari rukun-rukun ‎Islam, ia juga kafir dan boleh dibunuh meskipun telah ‎mengucapkan kalimat tauhid itu. Lalu, kalau orang ‎yang mengingkari satu cabang agama, pengakuan ‎Islamnya batal dan tak berguna, adakah berguna ‎pengakuan keislaman orang yang mengingkari tauhid ‎yang merupakan asas dan dasar agama para Rasul? ‎Namun, memang musuh-musuh Allah tidak faham ‎makna hadits-hadits itu.‎

Adapun hadits Usamah adalah bahwasanya ia telah ‎membunuh seorang lelaki yang sudah mengaku ‎dirinya Islam disebabkan karena Usamah menyangka, ‎bahwa lelaki itu tidak mengaku Islam kecuali karena ‎rasa takut atas darah dan hartanya. Jadi, jika seorang ‎telah memperlihatkan keislamannya, maka wajib bagi ‎muslim menahan diri, dan tidak tergesa-gesa ‎membunuhnya sehingga diketahui dengan teliti pada ‎dirinya apa-apa yang bertentangan dengan ‎keislamannya itu. Tentang hal itu, Allah subahanahu wa ta’ala Telah ‎menurunkan firman-Nya:‎

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا ضَرَبۡتُمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَتَبَيَّنُوا ‏ ‏ ‏ ‏ ‏


‎“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi ‎‎(berperang) di jalan Allah, maka betabayunlah ‎‎(telitilah).” ( QS. An Nisaa’: 94).‎

Tabayyun yakni tatsabbut, berhati-hati dalam ‎bertindak, tidak ceroboh, ayat tersebut menunjukkan ‎kewajiban menahan diri dan bertasabbut. Lantas, jika ‎sudah terang (setelah diteliti) ada sesuatu yang ‎berlawanan dengan Islam, maka boleh dibunuh, ‎berdasarkan firman Allah ‎‏ ‏ ‎-maka telitilah- kalau ‎seandainya tidak boleh dibunuh jika ia mengucapkan ‎kalimat tauhid, padahal telah terbukti, setelah diteliti ‎bahwa ia menentang Islam, maka perintah “tatsabbut” ‎tidak akan mempunyai arti. Demikian pula hadits lain ‎yang sejenisnya, maknanya adalah seperti yang sudah ‎kami sebutkan, dan bahwasanya barang siapa yang ‎telah menampakkan ketauhidan dan keislaman, maka ‎wajib orang muslim menahan diri darinya, kecuali jika ‎sudah terang darinya sesudah diteliti, hal-hal yang ‎membatalkan ketauhidan dan keislamannya itu. ‎Sebagai dalil atas hal itu adalah bahwasanya ‎Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:‎

‏(( أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ))‏

‎“Mengapa kamu bunuh dia sesudah mengatakan laa ‎ilaaha illallah”. ‎

Dan beliaushallahu ‘alaihi wasallam juga yang bersabda: ‎

‏(( أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ))‏‎ ‎

‎“Aku diperintahkan memerangi manusia sehingga ‎mereka mengatakan laa ilaaha illallah.”‎

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam pula yang bersabda tentang kaum ‎khawarij:‎

‏((أَيْنَمَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ))‏


‎“Dimana saja kamu sekalian bertemu mereka, maka ‎bunuhlah. Sungguh, jika aku mendapatkan mereka ‎‎(khawarij) niscaya pasti akan aku bunuh mereka ‎‎(seperti) terbunuhnya kaum ‘Aad.”‎

Padahal orang-orang khawarij itu termasuk orang-‎orang yang banyak beribadah, bertahlil dan bertasbih. ‎Sampai-sampai para sahabat merasa rendah diri di ‎hadapan orang-orang khawarij itu. Mereka telah ‎belajar ilmu dari para sahabat, akan tetapi meski ‎begitu, ucapan mereka: ‎لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله‎ sama sekali tidak ‎berguna bagi mereka.‎

Begitu juga ibadah mereka yang banyak dan ‎pengakuan Islam mereka juga tidak berguna tatkala ‎telah tampak dari mereka perlawanan terhadap ‎syari’ah.‎

Demikian halnya apa yang sudah kami sebutkan ‎tentang peperangan terhadap orang-orang Yahudi dan ‎peperangan para sahabat terhadap bani Hanifah. ‎Begitu juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ingin memerangi bani ‎Mushthaliq tatkala seorang lelaki dari mereka ‎memberitahu beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya bani Mushthaliq ‎enggan membayar zakat, sehingga Allah subahanahu wa ta’ala ‎menurunkan ayat:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ‏

‎“Hai orang-orang yang beriman, jika datang ‎kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka ‎periksalah dengan teliti.” (QS. Al Hujuraat: 6).‎

Dan benar, bahwa lelaki itu telah berbohong dalam ‎memberitakan tentang mereka. Semua ini ‎menunjukkan bahwa maksud nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-‎hadits yang mereka pakai sebagai hujjah itu adalah ‎seperti apa yang kami sudah sebutkan diatas.‎


Sumber : Muwahiid

Kasyfu Syubhat (4)

Kasyfu Syubhat adalah kitab yg Mengungkap Kebathilan Argumen Penentang Tauhid

Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab – Rahimahullah- berkata dalam kitab Kasyfu Subhat :

Syubhat itu adalah, bahwasanya mereka ‎mengatakan: “sesungguhnya orang-orang yang Al-‎Qur’an telah turun tentang keadaan mereka, tidak ‎pernah bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Allah ‎dan mereka mendustakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, mengingkari ‎hari kebangkitan, mendustakan Al-Qur’an dan ‎menganggapnya sebagai sihir, sedangkan kami ‎bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang haq disembah ‎selain Allah dan bahwasanya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah ‎utusan Allah. Kami membenarkan Al Qur’an, beriman ‎dengan adanya hari kebangkitan, melaksanakan shalat ‎dan kami pun melaksanakan puasa, bagaimana kalian ‎menyamakan kami seperti orang-orang musyrik dulu?‎

Sebagai jawaban atas syubhat ini adalah, ‎bahwasanya tidak ada perbedaaan pendapat antara ‎para ulama’, bahwa seseorang jika membenarkan ‎Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam satu hal, dan mendustakan beliau ‎shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hal yang lain, hukumnya adalah kafir, tidak ‎masuk dalam Agama Islam, begitu pula, jika seseorang ‎beriman dengan sebagian isi Al-Qur’an, tetapi ‎mengingkari sebagian yang lain seperti misalnya: ‎seorang mengakui tauhid, tetapi mengingkari ‎kewajiban shalat, atau mengakui tauhid dan mengakui ‎shalat, tetapi mengingkari zakat, ataupun dia ‎mengakui semua itu (tauhid, shalat dan zakat) tetapi ‎mengingkari puasa, atau dia mengakui semua itu, ‎tetapi ia mengingkari haji, maka orang yang semacam ‎itu hukumnya kafir. Dan ketika beberapa orang tidak ‎menunaikan ibadah haji pada zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam maka ‎Allah langsung menurunkan wahyu tentang orang-‎orang itu:‎

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْ الْعَلَمِي ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia ‎terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup ‎mengadakan perjalanan ke baitullah, barang siapa ‎mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya ‎Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari ‎semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).‎

Dan barang siapa yang mengakui semua yang ‎tersebut di atas itu, tetapi mengingkari hari ‎kebangkitan, maka hukumnya kafir menurut ijma’ ‎‎(kesepakatan para ulama’) dan darah serta harta ‎bendanya menjadi halal. Sebagaimna firman Allah subahanahu wa ta’ala:

‏ إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا ‏

أُوْلَئِكَ هُمْ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah ‎dan rasul-Nya dan bermaksud membeda-bedakan ‎antara Allah dan Rasul-rasul-Nya (beriman kepada ‎Allah, tidak beriman kepada rasul-rasul-Nya), dengan ‎mengatakan: “kami beriman kepada sebahagian (dari ‎rasu-rasul itu), dan kafir terhadap sebahagian (yang ‎lain), “serta bermaksud (dengan perkataan itu) ‎mangambil jalan antara yang demikian (iman atau ‎kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenarnya. ‎Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu ‎siksaan yang menghinakan. (QS. An Nisa’:150-151).‎

Maka, Jika Allah sudah menjelaskan dengan ‎sejelas-jelasnya dalam kitab-Nya, bahwasanya barang ‎siapa beriman kepada sebahagian dari rasul-rasul-Nya ‎dan kafir terhadap sebahagian yang lain, hukumnya ‎adalah kafir yang sebenar-benarnya; dengan demikian ‎hilanglah syubhat tersebut. Dan hal ini yang ‎dituturkan oleh sebagian penduduk Ahsaa’ (nama ‎suatu daerah di wilayah timur saudi arabia, pent) ‎dalam surat yang telah dikirimkan kepada kami[1]

Dikatakan: “apabila kamu sudah mengakui ‎bahwasanya barang siapa yang sudah membenarkan ‎Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam segala urusan, tetapi mengingkari ‎kewajiban shalat maka dia dihukumi kafir, halal ‎darahnya menurut ijma’ (kesepakatan ulama’). ‎Demikian juga, jika dia mengakui semua hal itu ‎kecuali hari kebangkitan, ia mengingkarinya, maka ia ‎dihukum kafir, halal darah dan hartanya. Begitu pula, ‎jika dia mengingkari puasa ramadhan tetapi tidak ‎mengingkari hari kebangkitan maka hukumnya pun ‎kafir. Semua madzhab tidak berselisih dalam hal ini, ‎dan Al-Qur’an pun telah menjelaskan tentang hal itu ‎seperti yang telah kami kemukakan di atas. Maka dari ‎sini, jelaslah bahwasanya “tauhid” itu termasuk fardhu ‎‎(kewajiban) yang terbesar yang dibawa oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. ‎

Tauhid lebih besar dari ibadah shalat, zakat, puasa ‎dan haji, jika seseorang mengingkari Satu hal dari hal-‎hal itu dihukumi kafir, meskipun dia sudah ‎mengamalkan semua syari’at Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, tepatkah ‎orang yang mengingkari tauhid -yang mana tauhid itu ‎merupakan agama seluruh rasul-rasul- tidak dihukumi ‎kafir? Subhanallah (Maha Suci Allah) Alangkah ‎anehnya kebodohan yang semacam ini (‎ ‎).‎

Dikatakan pula: “mereka para sahabat Rasulullah ‎shalallahu ‘alaihi wasallam telah memerangi bani Hanifah padahal mereka ‎benar-benar sudah masuk Islam bersama Nabi shalallahu ‘alalaihi wasallam ‎mereka bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Allah ‎dan bahwasanya Nabi muhammad adalah utusan ‎Allah. Dan mereka juga mengerjakan shalat dan azdan. ‎

Maka jika dia mengatakan: “sesungguhnya mereka ‎berkata bahwasanya Musailamah (Al-Kadzadzab) ‎adalah seorang nabi, kami katakan: inilah jawaban ‎yang dicari, yakni jika ada orang yang mengangkat ‎seorang lelaki sederajat dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dihukum kafir, ‎halal harta dan darahnya, dan dua ucapan syahadat ‎dan shalat tidak bermanfaat baginya, bagaimana ‎dengan orang yang mengangkat Syamsan atau Yusuf ‎atau seorang sahabat ataupun seorang Nabi ke derajat ‎yang Maha Menguasai langit dan bumi? Maha suci ‎Allah, betapa agung urusan-Nya.‎

كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏

‎“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang ‎yang tidak (mau) memahami”. (QS. Ar Ruum: 59).‎

Dikatakan pula: “orang-orang yang dibakar oleh ‘Ali ‎Bin Abi Thalib dengan api, mereka semua mengaku ‎dirinya Islam, dan mereka sahabat-sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu serta ‎belajar ilmu dari para sahabat, akan tetapi mereka ‎beri’tiqad terhadap Ali, seperti I’tiqad orang terhadap ‎Yusuf dan Syamsan dan orang yang semisal keduanya, ‎maka, bagaimana bisa para sahabat itu sepakat untuk ‎membunuh dan mengkafirkan mereka?‎

Apakah kalian menyangka, bahwasanya para ‎sahabat itu mengkafirkan orang-orang muslim? Atau ‎kalian menyangka bahwa beri’tiqad terhadap suatu ‎taaj (mahkota) dan sejenisnya tidak mengganggu iman ‎sedang beri’tiqad terhadap Ali bin Ali Thalib menjadi ‎kafir?‎

Dikatakan juga: Bani ‘Ubaid Al-Qaddah yang ‎menguasai negeri Maghrib dan Mesir pada zaman bani ‎Al-Abbaas, mereka semua bersaksi, bahwa tiada tuhan ‎selain Allah dan bahwasanya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam ‎adalah utusan Allah. Mereka pun mengaku menganut ‎Islam dan melaksanakan shalat Jum’at dan shalat ‎berjamaah, akan tetapi tatkala mereka ‎memperlihatkan perlawanan terhadap syariah dalam ‎beberapa hal yang tidak sebesar apa yang mereka ‎tentang pada zaman kita ini, para ulama’ pun sepakat ‎untuk mengkafirkan mereka. Dan difatwakan bahwa ‎negeri mereka adalah negeri “Dar Harb” yang harus di ‎pererangi. Lalu, kaum muslimin memerangi mereka ‎sampai kaum muslimin dapat membebaskan negeri ‎orang-orang Islam yang berada dalam cengkraman ‎mereka.‎

Dikatakan juga: “jika orang-orang dulu tidak kafir ‎melainkan lantaran mereka hanya memadukan antara ‎syirik dan mendustakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan Al-Qur’an ‎serta mengingkari hari kebangkitan dan yang lainnya. ‎Maka apalah artinya bab yang di sebut oleh Para ‎ulama’ seluruh madzhab: “bab hukum orang murtad”. ‎Yaitu yang tak lain adalah orang muslim yang menjadi ‎kafir sesudah dirinya Islam. Kemudian para ulama’ ‎menyebutkan beberapa macam murtad. Setiap macam ‎dari macam-macam murtad itu dihukumi kafir dan ‎dijadikan darah dan harta bendanya itu halal. Sampai-‎sampai para ulama’ itu menyebutkan hal-hal yang ‎gampang terjadi dan dilakukan orang. Seperti; ‎seseorang yang menyebut sesuatu kalimat dengan ‎lisannya, tanpa ada keyakinan dalam hatinya ataupun ‎menyebut suatu kalimat dengan bercanda dan main-‎main.‎

‎ Dan dikatakan pula: orang-orang yang Allah ‎katakan tentang mereka:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏

‎“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah ‎dengan nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakan ‎‎(sesuatu yang menyakitimu), Sesungguhnya mereka ‎telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah ‎menjadi kafir sesudah islam”. ( QS. At Taubah: 74).‎

Apakah kamu tidak mendengar, bahwasanya Allah ‎telah mengkafirkan mereka hanya karena mereka ‎mengucapkan satu kalimat? padahal semasa ‎Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mereka berjihad bersama beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. ‎Mengerjakan shalat bersama beliau, berzakat, ‎menunaikan ibadah haji dan mentauhidkan Allah.‎

‎ Demikian pula, orang-orang yang Allah katakan ‎tentang mereka:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ قُلْ أبِاللَّهِ وَءايَتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءونَ ‏ ‏ ‏ ‏

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَنِكُمْ ‏‎ ‎‏ ‏

‎“Katakanlah: “Apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya ‎dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” tidak usah ‎kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”. ‎‎(QS. At-Taubah: 65-66).‎

Allah subahanahu wa ta’ala telah menerangkan dan menjelaskan ‎dengan sejelas-jelasnya, bahwasanya mereka itu kafir ‎sesudah beriman, padahal mereka ikut bersama ‎rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Tabuk, mereka telah ‎mengucapkan satu kalimat kekafiran, meski mereka ‎katakan bahwa mereka mengucapkan kalimat itu atas ‎dasar gurau belaka.
-------------------------------------------------------------------------------------
[1] Dahulu daerah Ahsa’ pada zaman syaikh, terdapat banyak Ulama-ulama’ dari berbagai madzhab, sebagian dari ulama itu keras kepala menentang dan sebagian yang lain diberi hidayah oleh Allah, lalu mengikuti kebenaran dan petunjuk karena taufiq Allah.

Sumber : Muwahiid

Kasyfu Syubhat (3)

Kasyfu Syubhat adalah kitab yg Mengungkap Kebathilan Argumen Penentang Tauhid‎

Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab-Rahimahullah-Berkata dalam kitab Kasfu Syubhat:

Apabila dia mengatakan,” syirik itu menyembah ‎berhala-berhala”. ‎

Maka jawablah: “Apa makna menyembah berhala-‎berhala itu? apakah kamu mengira, bahwasanya ‎orang-orang musyrik itu beri’tikad/ berkeyakinan, ‎bahwa kayu-kayu yang mereka sembah dan pohon-‎pohon itu yang menciptakan, dan yang memberi rezeki ‎dan yang mengatur urusan orang yang berdo’a ‎kepadanya? pendapatmu itu tidak dibenarkan oleh Al- ‎Qur’an, sebagaimana yang tertera dalam firman Allah ‎Ta’ala :‎


‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلأَبصَـٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلحَىَّ مِنَ ٱلمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلمَيِّتَ مِنَ ٱلحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ‌ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللّهَ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki ‎kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang ‎kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan ‎siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang ‎hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” ‎Maka mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Yunus :31).‎

Jika dia mengatakan: “orang-orang yang ‎menujukan pemujaan kepada kayu atau suatu batu ‎atau bangunan diatas sebuah kuburan atau yang ‎lainnya seraya berdo’a kepada benda-benda itu dan ‎menyembelih kurban demi untuknya: Bahwasanya ‎benda-benda itu dapat mendekatkan kami kepada ‎Allah dengan sedekat-dekatnya dan dapat menolak ‎bala’ dari kami dengan barokahnya.”‎

Maka katakan, “Anda telah jujur menjawab, dan ‎hal itulah yang kamu kerjakan di sisi batu-batu, ‎bangunan-bangunan yang ada di atas kuburan dan ‎yang lainnya”. Sipenentang itu mengakui bahwa ‎perbuatan orang-orang semacam itu, sama saja ‎dengan menyembah berhala. ‎

Perlu juga dikatakan kepadanya lagi: ucapanmu ‎‎“syirik itu menyembah kepada berhala, “Apakah yang ‎kamu maksud, bahwa syirik itu khusus kepada ‎penyembahan berhala saja, sedangkan bergantung ‎kepada orang-orang shalih serta berdo’a kepada ‎mereka tidak termasuk syirik? Padahal hal ini ‎dibantah oleh ayat yang disebutkan Allah dalam ‎kitabnya tentang kekufuran orang yang selalu ‎bergantung kepada para malaikat, Nabi ‘Isa dan orang-‎orang shalih. Maka wajib kamu akui, bahwasanya ‎orang yang mempersekutukan seseorang dari orang-‎orang shalih dalam beribadah kepada Allah, bentuk ‎syirik yang semacam itu adalah bentuk syirik yang ‎tercantum dalam Al-Qur’an. dan memang inilah ‎kesimpulan pembahasan yang dicari.‎

Rahasia masalah ini adalah jika dia mengatakan: ‎‎“saya tidak syirik (mempersekutukan) Allah”.‎

Maka tanyakan kepadanya: “apakah sebenarnya ‎arti syirik kepada Allah itu, coba jelaskan arti syirik itu ‎kepadaku? ‎

Jika dia mengatakan, “syirik itu adalah menyembah ‎berhala-berhala. ‎

Maka katakan: “lalu apa makna menyembah ‎berhala itu, coba jelaskan kepadaku? Jika dia mengatakan: “saya hanya menyembah ‎Allah semata”. ‎

Maka katakan: “apakah makna menyembah Allah ‎semata itu? Coba jelaskan kepadaku!‎

Jika dia menjelaskan kalimat itu dengan apa yang ‎sudah dijelaskan Al-Qur’an, maka jawaban itulah yang ‎diharapkan .

‎ Akan tetapi dia tidak mengetahui hal itu. Dan jika ‎dia menafsirkan hal itu tidak sesuai dengan makna ‎sebenarnya, maka hendaknya anda jelaskan ‎kepadanya ayat-ayat yang menjelaskan tentang syirik ‎kepada Allah dan makna menyembah berhala-berhala. ‎Atau jelaskan kepadanya bahwa hal itulah yang ‎dilakukan oleh sebagian orang pada zaman ini. Dan ‎jelaskan pula, bahwa menyembah Allah semata, tiada ‎sekutu bagi-Nya, itulah yang membuat mereka ‎menentang kami dan berteriak sebagaimana kawan-‎kawan mereka (para jahiliyyah) telah berteriak, sambil ‎mengatakan: ‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ أَجَعَلَ ٱلۡأَلِهَةَ إِلَـٰهً۬ا وَٲحِدًا‌ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىۡءٌ عُجَابٌ۬ ‏ ‏ ‏ ‏

‎ “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu hanya ‎yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu ‎hal yang sangat mengherankan”. (QS. Shaad: 5).‎

Apabila anda sudah tahu bahwa hal yang ‎dinamakan oleh orang-orang musyrik pada zaman ini ‎dengan “Al I’tiqaad,”adalah merupakan “syirik” yang ‎dimaksud dalam Al-Qur’an dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ‎memerangi manusia lantaran syirik itu, maka ‎ketahuilah, bahwasanya bentuk syirik orang-orang ‎dahulu itu lebih ringan dari bentuk syirik orang-orang ‎zaman ini, hal ini karena dua hal :‎

Yang pertama:‎

Bahwasanya orang-orang dahulu tidak melakukan ‎kesyirikan, tidak menyembah dan berdo’a kepada ‎malaikat, para wali dan berhala-berhala disamping ‎menyembah dan berdoa kepada Allah kecuali dalam ‎keadaan senang.‎

Sedangkan di waktu susah mereka mentuluskan ‎ibadah dan do’a mereka kepada Allah. Seperti firman ‎Allah:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِى ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُ‌ۖ فَلَمَّا نَجَّٮٰكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡ‌ۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَـٰنُ كَفُورًا ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏

‎“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, ‎niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. ‎Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, ‎kamu berpaling. Dan adalah manusia itu selalu tidak ‎berterima kasih”. (QS. Al Israa’ :67).‎

Dan firman Allah:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ قُلۡ أَرَءَيۡتَكُمۡ إِنۡ أَتَٮٰكُمۡ عَذَابُ ٱللَّهِ أَوۡ أَتَتۡكُمُ ٱلسَّاعَةُ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَدۡعُونَ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ ‏ ‏ ‏ ‏

بَلۡ إِيَّاهُ تَدۡعُونَ فَيَكۡشِفُ مَا تَدۡعُونَ إِلَيۡهِ إِن شَآءَ وَتَنسَوۡنَ مَا تُشۡرِكُونَ

Katakanlah: “Bagimana pendapat kalian jika datang ‎siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari ‎kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika ‎kamu orang-orang yang benar”. (Tidak ) bahkan hanya ‎Dialah yang kalian seru, maka Dia menghilangkan ‎bahaya yang kamu berdo’a kepadanya, jika Dia ‎menghendaki, dan kamu tinggalkan sesembahan-‎sesembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)”. ‎‎(QS. Al An’am:40-41).‎

Dan Allah berfirman:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ وَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ ضُرٌّ۬ دَعَا رَبَّهُ ۥ مُنِيبًا إِلَيۡهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ ۥ نِعۡمَةً۬ مِّنۡهُ نَسِىَ مَا كَانَ يَدۡعُوٓاْ إِلَيۡهِ مِن قَبۡلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادً۬ا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِۦ‌ۚ قُلۡ تَمَتَّعۡ بِكُفۡرِكَ قَلِيلاً‌ۖ إِنَّكَ مِنۡ أَصۡحَـٰبِ ٱلنَّارِ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia ‎memohon pertolongan kepada tuhannya dengan ‎kembali kepada-Nya; kemudian apabila Dia ‎memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan ‎kemudharatan yang pernah dia berdo’a (kepada Allah) ‎untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia ‎mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk ‎menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‎‎“bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu ‎sementara waktu, sesungguhnya kamu termasuk ‎penghuni neraka.” (QS. Az Zumar: 8).‎

Dan firman Allah Ta’ala:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ وَإِذَا غَشِيَہُم مَّوۡجٌ۬ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ‏ ‏

‎“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar ‎seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan ‎memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam ‎‎(menjalankan) agama. ( QS. Luqman: 32).‎

‎ Maka, barang siapa yang faham masalah yang ‎sudah dijelaskan oleh Allah dalam kitab-Nya ini, yaitu: ‎bahwasanya orang-orang musyrik yang diperangi ‎Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam itu mereka berdo’a (menyeru kepada) ‎Allah dan berdo’a pula kepada selain Allah dalam ‎keadaan senang, sedangkan di waktu ditimpa bahaya ‎dan susah, mereka hanya berdo’a kepada Allah ‎semata, tiada sekutu baginya, dan mereka tinggalkan ‎para penghuni kubur yang selalu mereka seru “ya ‎sayyidi, ya sayyidi, dengan demikian semakin teranglah ‎baginya perbedaan antara bentuk syirik orang-orang ‎zaman kita dan bentuk syirik orang-orang dahulu.‎

Namun mana orang yang hatinya faham masalah ‎ini dengan pemahaman yang dalam? Hanya Allahlah ‎tempat memohon pertolongan (untuk menuju ‎ibadah yang sebenarnya kepada-Nya).‎

Yang kedua:‎

Bahwasanya orang-orang dahulu itu, disamping ‎menyembah Allah, mereka berdo’a kepada orang yang ‎sangat dekat disisi Allah, baik itu para nabi atau para ‎wali ataupun malaikat. Dan juga mereka menyembah ‎‎(berdo’a) kepada pepohonan dan batu-batu yang semua ‎itu tunduk dan taat kepada Allah, tidak maksiat ‎kepada-Nya. Sedangkan orang-orang zaman kita, ‎disamping menyembah Allah mereka berdo’a kepada ‎orang-orang yang tergolong manusia paling fasiq, dan ‎orang-orang yang mereka seru itu justru orang-orang ‎yang mereka sebut-sebut sendiri banyak melakukan ‎kejelekan –kejelekan; mulai dari berzina, mencuri, ‎meninggalkan shalat dan lain-lain.

Orang yang beri’tiqad terhadap orang shalih dan ‎sesuatu yang tidak maksiat kepada Allah seperti kayu ‎dan pohon, tentunya lebih ringan dari pada orang yang ‎beri’tiqad terhadap orang yang ia sendiri melihat ‎kefasikan dan kerusakannya, dan ia menyaksikan ‎dengan jelas.‎

‎ Apabila sudah jelas bagi anda, bahwasanya orang-‎orang yang pernah diperangi Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam adalah ‎orang-orang yang paling ringan kesyirikannya dari ‎orang-orang musyrik sekarang, maka hendaklah anda ‎tahu, sesungguhnya mereka mempunyai syubhat yang ‎mereka kemukakan sebagai jawaban terhadap apa ‎yang sudah kami sebutkan, dan syubhat ini adalah ‎syubhat yang terbesar. Makanya pusat pendengaran ‎anda baik-baik terhadap jawaban dari syubhat itu‎

Sumber Muwahiid

Kasyfu Syubhat (2)

Kasyfu Syubhat adalah kitab yg Mengungkap Kebathilan Argumen Penentang Tauhid

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –Rahimahullah- Berkata dalam Kitab Kasyfu Syubhat :

Kemudian apabila dia mengatakan:‎

‎“Saya tidak menyembah kecuali kepada Allah, ‎sedangkan berlindung kepada orang-orang shalih dan ‎berdo’a kepada mereka semacam ini bukanlah ibadah”.‎

Maka, katakan kepadanya: “bukankah kamu ‎mengakui, bahwasanya Allah telah mewajibkan ‎kepadamu pemurnian ibadah hanya untuk-Nya, dan ‎itu merupakan hak Dia atas kamu? Jika dia ‎menjawab: ya, maka katakan padanya: “Coba ‎terangkan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan ‎kepadamu, yaitu: keikhlasan, kemurnian beribadah ‎hanya untuk Allah semata, dan itu merupakan hak ‎Allah atas kamu.” ‎


Sesungguhnya dia tidak akan tahu apa itu ibadah ‎dan apa macam-macamnya (‎ ‎). Untuk itu terangkanlah ‎hal itu kepadanya dengan ucapan anda: Allah subahanahu wa ta’ala telah ‎befirman:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعً۬ا وَخُفۡيَةً‌ۚ ‏ ‏ ‏ ‏

‎ “Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri ‎dan suara yang lembut.” (QS.Al A’raaf: 55).‎

‎Lalu jika anda sudah memberi tahukan hal itu ‎kepadanya, maka katakan kepadanya: “apakah kamu ‎tahu, bahwa berdo’a itu merupakan ibadah kepada ‎Allah?‎

Maka, pasti dia akan mengatakan:

ya, do’a itu ‎puncak ibadah. Lantas katakan kepadanya: “kalau ‎kamu sudah mengakui, bahwa do’a itu adalah ibadah ‎kepada Allah, dan kamu sendiri sudah berdo’a kepada ‎Allah sepanjang malam dan siang hari dengan rasa ‎takut dan harap, kemudian kamu berdo’a untuk ‎keperluan tertentu kepada seorang Nabi atau yang ‎lainnya; apakah bukan berarti kamu telah menjadikan ‎selain Allah sebagai sekutu Allah dalam beribadah ‎kepada-Nya? ‎

Maka, pasti dia akan menjawab: ya.‎

‎ Lalu katakan kepadanya lagi: “Apabila kamu sudah ‎mengamalkan firman Allah, di saat Dia berfirman:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ‏ ‏

‎“Maka dirikanlah shalat untuk Rabbmu, dan ‎sembelihlah kurban.” (QS. Al Kautsar: 2).‎

Dan kamu sudah taat kepada Allah serta sudah ‎pula menyembelih kurban untuk Dia; apakah hal ini ‎‎(bukan) merupakan ibadah?‎

Pasti ia akan menjawab: ya. ‎

Lantas katakan kepadanya: “jika kamu ‎menyembelih kurban demi untuk seseorang makhluk, ‎baik itu seorang nabi atau jin ataupun yang lainnya, ‎bukankah kamu sudah menjadikan selain Allah sekutu ‎bagi-Nya dalam beribadah kepada-Nya?. ‎

Dia pasti akan mengakui dan mengatakan: ya. Dan ‎katakan kepadanya lagi: “orang-orang musyrik -yang ‎mana Al-Qur’an telah turun menjelaskan tentang ‎keadaan mereka-, apakah mereka dulu senantiasa ‎menyembah malaikat, Orang-orang shalih, Al- Latta ‎dan yang lainya? ‎

Sudah pasti dia akan mengatakan: ya.‎

Maka katakan kepadanya: “bukankah ibadah ‎mereka kepada malaikat, orang-orang shalih dan yang ‎lain-lain itu hanya dalam bentuk do’a, penyembelihan ‎kurban, berlindung kepada mereka di saat ada ‎kebutuhan dan yang semacamnya? Jika tidak seperti ‎itu lalu apa? Mereka mengakui, bahwasanya mereka ‎adalah hamba-hamba Allah dan di bawah ‎kekuasaannya, dan bahwasanya Allah lah yang ‎mengatur segala urusan, namun mereka berdo’a ‎kepada malaikat, orang-orang shalih dan berlindung ‎kepada mereka karena mereka yakin bahwa yang ‎mereka puja itu memiliki jaah (kedudukan tinggi) dan ‎syafa’at, hal ini jelas sekali.‎

Kalau dia mengatakan: “Apakah engkau ‎mengingkari syafa’at Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berlepas diri ‎dari padanya?‎

‎ Maka jawablah: “Saya sama sekali tidak ‎mengingkari syafa’at itu, juga tidak berlepas diri ‎darinya, bahkan saya meyakini, bahwa beliau shalallahu ‘alaihi wasallam adalah ‎Asysyaafi’ (yang memberi syafa’at) dan Musyaffa’ ‎‎(mendapatkan hak memberi syafa’at dari Allah) dan ‎saya benar-benar mengharap syafa’at beliau itu, akan ‎tetapi, bagaimanapun juga semua syafa’at itu ‎kepunyaan Allah semata, sebagaimana yang ‎difirmanka-Nya:‎


‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَـٰعَةُ جَمِيعً۬ا

Katakanlah:“Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu ‎semua.” (QS. Az Zumar: 44).‎

Dan tidak akan ada syafa’at itu kecuali sesudah ‎mendapatkan izin dari Allah. Allah subahanahu wa ta’ala berfirman:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُ ۥۤ إِلَّا بِإِذۡنِ ‏ ‏ ‏ ‏

‎ “Siapa yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah ‎tanpa izin-Nya?” (QS. Al Baqarah: 255). ‎

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tidak akan dapat memberi syafa’at ‎terhadap seseorang kecuali sesudah Allah mengizinkan ‎untuk memberi syafa’at kepada orang itu, sebagaimana ‎Allah telah berfirman:‎

وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏

‎“Dan mereka tidak memberi syafa’at melainkan ‎kepada orang yang diridhai Allah.” (QSAl-Anbiyaa’:28).‎

Sedangkan Allah sendiri hanya ridha kepada ‎tauhid.” Seperti yang difirmankan-Nya:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينً۬ا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡ ‏

‎“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, ‎maka sekali-sekali tidaklah akan diterima (agama itu) ‎dari padanya.” (QS. Ali ‘Imran: 85).‎

Jadi, jika syafa’at itu semuanya kepunyaan Allah ‎dan tidak akan ada kecuali sesudah mendapatkan izin ‎Allah, sedang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri dan yang lainnya tidak ‎dapat memberi syafa’at terhadap seseorang sebelum ‎Allah mengizinkannya untuk memberi syafa’at kepada ‎seseorang itu, serta syafa’at itu hanya diizinkan untuk ‎ahli tauhid, maka dari sini menjadi jelas dan teranglah ‎bagi anda, bahwasanya syafa’at itu semuanya ‎kepunyaan Allah, dan saya akan memohon syafa’at itu ‎dari Dia. Untuk itu saya berdo’a: “Ya Allah, janganlah ‎engkau jadikan aku orang yang tak mendapatkan ‎bagian dari syafa’at Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, Ya Allah, berilah beliau ‎hak memberi syafa’at untukku,” dan do’a-do’a yang ‎sejenisnya”.‎

Apabila dia mengatakan: “Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah diberi hak ‎memberi syafa’at, lalu saya memohon kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam ‎sebagian apa yang telah Allah berikan kepada beliau. ‎

Maka jawabannya sebagai berikut: “Sesungguhnya ‎Allah telah memberi beliau shalallahu ‘alaihi wasallam hak memberi syafa’at, ‎tetapi Dia melarang kamu berdo’a memohon kepada ‎Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Untuk itu Allah berfirman:‎

‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدً۬ا ‏ ‏ ‏

‎ “Maka janganlah kamu berdo’a kepada seseorang ‎disamping (berdoa kepada) Allah.” (QS. Al Jin:18).‎

Dan juga, bahwasanya syafa’at itu juga diberikan ‎kepada selain Nabi shallahu ‘alaihi wasallam, maka benar, bahwasanya para ‎malaikat akan memberi syafa’at. Begitu juga para wali ‎itu akan memberi syafa’at. Lalu, apakah kamu ‎mengatakan: “sesungguhnya Allah telah memberi ‎kepada mereka (yang disebut di atas) itu hak memberi ‎syafa’at, dan saya memohon syafa’at itu dari mereka, ‎jika kamu memang mengatakan (mengakui) begitu, ‎maka berarti kamu telah kembali kepada ‎penyembahan kepada orang shalih yang sudah ‎nyatakan Allah dalam kitab-Nya, akan tetapi jika kamu ‎mengatakan: Tidak, (tidak mengatakan seperti ucapan ‎di atas), maka menjadi batal-lah ucapanmu terdahulu: ‎‎“Allah telah memberi kepada beliau Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam hak ‎memberi syafa’at, lalu saya memohon kepada beliau ‎sebagian apa yang sudah Allah berikan padanya.”‎

Lalu, kalau dia mengatakan sama sekali tidak ‎mempersekutukan sesuatupun dengan Allah. Dan ‎sekali-kali tidak, akan tetapi, berlindung (iltija’) kepada ‎orang-orang shalih bukanlah perbuatan syirik. ‎

Maka katakan kepada dia,” jika kamu sudah ‎mengakui, bahwasanya Allah telah mengharamkan ‎syirik, itu melebihi dari pada mengharamkan zina, dan ‎kamu mengakui pula, bahwasanya Allah tidak akan ‎mengampuni dosa syirik, maka masalah apa yang ‎diharamkan Allah dan Dia sebut bahwasanya Dia tidak ‎akan mengampuninya itu? pasti dia tidak akan tahu. ‎Maka, katakan lagi kepadanya: “lantas bagaimana ‎kamu membebaskan dirimu dari melakukan syirik, ‎sementara kamu sendiri tidak mengetahui syirik itu. ‎Atau bagaimana Allah mengharamkan syirik itu atas ‎kamu dan Dia menyebut bahwasanya Dia tidak akan ‎mengampuni dosa syirik itu, sementara kamu tidak ‎menanyakan apa itu syirik dan tidak mengetahuinya. ‎Apakah kamu mengira, bahwa Allah mengharamkan ‎syirik, tapi tidak menerangkannya kepada kita?‎


Sumber : Muwahiid